| Mengenali Ragam Desa di Sikka, Flores- NTT |
|
|
|
| Wednesday, 11 June 2008 | |
|
Ada beragam typologi desa yang satu sama lain dibedakan oleh topografi dan lingkungan alamnya. Dan itu sangat berpengaruh pada karakter kehidupan masyarakatnya. Di Kab. Sikka NTT bahkan beragam typologi desa itu ada di satu kecamatan. Suko Raharjo dari Dit. Perdesaan Wil. Timur menelusurinya ke sana Berikut laporannya; ADA BEBERAPA type desa yang bisa dibedakan dari topografi; desa dataran rendah, desa dataran tinggi, desa pegunungan dan desa pantai yang satu dengan lainnya punya ciri khas tersendiri. Termasuk karakteristik kehidupan masyarakatrya pun berbeda. Kehidupan desa dataran tinggi misalnya sangat berbeda dengan masyarakat desa di daerah pantai yang kehidupan sehari-harinya didominasi pada kegiatan nelayan. Namun di propinsi NTT,seperti di Kab. Sikka, P. Flores. Bahkan keempat typologi desa itu ada di sana, ya........karena topografi daerahnya itu yang membuat bermacam countur desa ada di sana. Hasil penelusuran itu seperti berikut; Desa Pegunungan Desa Wolomopa yang masuk dalam kecamatan Kewapante diindikasikan sebagai desa pegunungan yang maju. Terletak pada ketinggian >600 m dpl., berjarak sekitar 12 km dari kantor Kec. Kewapante. Kondisi jalan desa beraspal, listrik PLN, terjangkau angkutan umum perdesaan rutin setiap hari. Pemandangan antene parabola terlihat pada rumah penduduk yang mampu. Mayoritas warga beragama Katolik, memiliki gereja megah yang tengah dalam penyelesaian pembangunannya oleh warga setempat. Kehidupan kegamaan sangat dominan mewarnai kegiatan sehari-hari warganya. Banyak terdapat pemakaman di halaman rumah penduduk, khususnya yang terlihat di pinggir-pinggir jalan, sesuai dengan pola pemukiman penduduk yang linier. Penghasilan utamanya berupa kemiri, kakao, kopi, kelapa di dukung dengan pemasaran yang terjamin dengan kemudahan transportasi merupakan salah satu kunci kemajuan desa tersebut. Fasilitas pendidikan terdapat SD, sedangkan SMP, Puskesmas serta pasar desa terdapat di kecamatan Kewapante. Masalah utama yang dihadapi adalah sulitnya air bersih, sehingga masih harus mendrop air melalui mobil-mobil tanki air yang keluar masuk ke perdesaan. Distribusi air bersih tersebut di kelola oleh pemerintah maupun swasta. Dengan mobil tanki ukuran 5.000 liter yang harganya relative tergantung jarak tempuhnya. Karena itu di setiap rumah umumnya dilengkapi dengan bak penampung air hujan. Desa Dataran Tinggi Desa Riit Kec. Nita merupakan desa yang bisa dikategorikan sebagai desa dataran tinggi yang masih tertinggal . Berada pada ketinggian + 525 m dpl. Berjarak sekitar 13 km dari kantor Kec. Nita dimana terdapat pasar penampungan hasil perkebunan/ pertanian dari desa Riit. Ciri menonjol desa tertinggal ini adalah kuranguya sarana dan prasarana seperti jalan yang rusak (tidak adanya saluran drainase di kiri-kanan jalan) dan tidak dapat dilalui sewaktu hujan. Di beberapa tempat masih rawan longsor. Angkutan umum tidak ada di sana. Hanya sekali seminggu (sesuai hari pasaran) datang truk untuk mengangkut hasil bumi/ pertanian. Menurut warga setempat, apabila truk tidak datang maka hasil bumi itu diangkut dengan dipikul ke kota Nita. Kegiatan penduduk dari hasil kebun/ hutan, seperti kemiri, kakao, kopi serta tanaman keras lainnya disamping beternak babi dan ayam. Yang menarik dari desa tertinggal dataran tinggi ini perhatian penduduk terhadap pendidikan anak anaknya cukup diutamakan. Rata-rata anak sekolah lulus SLTA, bahkan ada yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi di Kupang. Kesulitan untuk mencari air bersih sangat dirasakan, karena harus mengambil air dari lembah/sungai yang berjarak sekitar 4 km dengan medan yang curam. Desa dataran rendah Desa Korowawu dan desa Kolidetung yang bersebelahan, merupakan profil desa dataran rendah tertinggal, meski lokasinya dekat pantai. Kegiatan penduduknya umumnya berladang. Pantainya bergelombang tidak cocok untuk kegiatan nelayan/ penangkapan ikan, bahkan abrasi air laut sering menyebabkan gerusan terhadap badan jalan, mengakibatkan desa Kolidetum tertinggal karen putusnya hubungan transportasi di ruas jalan itu sepanjang 200 meter, serta mengancam robohnya rumah penduduk yang berada di bibir pantai. Desa Bhera merupakan profil desa dataran rendah yang berkembang, lokasinya dilalui jalan negara ruas Maumere - Ende. (+ Km 40). Kehidupan masyarakat umumnya bertani/ berkebun dan memelihara ikan dikolam (air tawar) seperti ikan lele dsb serta beternak ayam. KUDnya maju, sarana ibadah berupa gereja tersedia karena umumnya masyarakatnya beragama Katolik, sekolah dan pelayanan kesehatan cukup dekat ke kota Kec. Paga yang berjarak sekitar 5 Km.Desa Pantai Ada desa pantai di sana. Namanya Hokor masuk Kec. Bola. Merupakan desa yang di indikasikan desa pantai tertinggal. Terletak di pantai selatan Flores. Meski terletak di tepi pantai, namun desa Hokor penduduknya hampir tidak ada yang bermata pencaharian utama nelayan/ melaut, tetapi pada umumnya bercocok tanam. Kalaupun ada di beberapa tempat yang menangkap ikan, bukan merupakan pekerjaan utama, hanya sambilan pada musim tertentu.dan jumlahnya relative sedikit. Ketinggian pemukiman terdekat dengan pantai mencapai sekitar 30 meter. Penghasilan utama penduduk adalah dari tanaman seperti kopi, kakao, kelapa, mangga dan tanaman keras lainnya. Desa Hokor terkenal sebagai penghasil "mokhe" sejenis arak yaitu minuman yang dibuat dari nira pohon Lontar. Jalan desa cukup baik dan setiap harinya dilayani angkutan umum perdesaan untuk mengangkut hasil bumi. Sayangnya kebutuhan air bersih penduduk umumnya melalui PAH (Penampung Air Hujan). Meski terdapat sumber air di lembah tetapi jaraknya sekitar 600 meter dari pemukiman penduduk. Selama ini penduduk biasa mengambil air ke sumber air tersebut dengan berjalan kaki. Dari kepala desa diusulkan kiranya ada teknologi untuk dapat mendorong air ke atas ke tempat-tempat pemukiman. Listrik desa diadakan secara swadaya menggunakan generator. Satu hal yang mendukung desa ini adalah adanya potensi pariwisata berupa: panjat tebing, tari tarian daerah, tempat bersejarah dan sumber mata air panas. Itulah hasil penelusuran ke beberapa desa di kabupaten Sikka, Pulau Flores NTT kiranya beberapa catatan penting dapat dijadikan kesimpulan antara lain; Konfigurasi/countur desa wilayah Kabupaten Sikka sangat tajam, sehingga dalam satu kecamatan dapat dijumpai desa dengan berbagai variasi tipologi desa yang beragam dan berjarak relative dekat antara desa satu dengan yang lain. |
|
| Last Updated ( Friday, 13 June 2008 ) |
| < Prev |
|---|







